BERITA STAI ATTANWIR, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi terus menjalar dan kini diperkirakan telah menghanguskan 42.455 hektare lahan. Api tidak hanya melalap hutan produksi dan areal konsesi, tetapi juga merambah kawasan konservasi, termasuk Taman Nasional Berbak dan Sembilang. Di tengah situasi itu, Singapura yang ikut terpapar kabut asap menyatakan siap membantu Indonesia memadamkan api.
Angka tersebut merupakan hasil analisis spasial citra satelit Sentinel-2 oleh Divisi GIS/IT Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi. Manajer Komunikasi KKI Warsi, Rudi Syaf, pada Sabtu (10/10/2026) menegaskan kondisi ini menuntut kewaspadaan semua pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, pemegang izin usaha, aparat penegak hukum, hingga warga yang bermukim di sekitar hutan dan gambut.
Tanjung Jabung Timur Paling Parah
Dari seluruh kabupaten di Jambi, Tanjung Jabung Timur tercatat sebagai wilayah dengan area terbakar terluas, yakni sekitar 11.425 hektare. Sebagian besar wilayah itu merupakan ekosistem gambut. Secara keseluruhan, KKI Warsi mengidentifikasi sekitar 10.700 hektare lahan gambut di Jambi telah terbakar.
Sebaran api pun beragam, meliputi taman nasional, hutan lindung, taman hutan raya, hutan produksi, hingga areal penggunaan lain (APL). Rudi menjelaskan bahwa kebakaran gambut jauh lebih sulit ditangani dibanding kebakaran di tanah mineral. Saat gambut mengering, api bisa merambat di lapisan organik di bawah permukaan sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan tuntas.
Selain merusak tutupan vegetasi, kebakaran gambut juga mengganggu fungsi tata air, melepaskan cadangan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer, memperburuk kualitas udara, dan membuat kawasan rentan terbakar berulang. Karena itu, KKI Warsi meminta pengelola kawasan memprioritaskan titik-titik gambut serta menelusuri penyebab kebakaran agar kejadian serupa tidak terulang.
Masalah di Enam Provinsi
Jambi bukan satu-satunya daerah yang bergulat dengan api. Pada awal pekan, Kepala BNPB Letjen Suharyanto menyebut karhutla di enam provinsi bergambut, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, masih berada dalam kategori berat. Kondisi terparah saat itu terpantau di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan, di mana asap pekat sampai mengganggu penerbangan. BNPB juga mengakui adanya peningkatan jumlah warga yang sakit akibat paparan asap.
Dampak asap bahkan dirasakan provinsi yang tidak memiliki titik api aktif. Pemerintah Provinsi Riau menyatakan kabut tebal yang menyelimuti Pekanbaru merupakan asap kiriman dari Sumatera Selatan dan Jambi.
Singapura Siap Turun Tangan
Kabut asap juga melintasi batas negara. Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura, Grace Fu, pada Sabtu menyatakan negaranya siap membantu Indonesia memadamkan karhutla di mana pun diperlukan. Ia mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Menteri Lingkungan Hidup RI Jumhur Hidayat untuk menyampaikan dukungan sekaligus apresiasi atas upaya penanganan yang tengah berjalan.
Grace juga menyatakan dukungannya terhadap upaya kerja sama regional dalam menangani persoalan kabut asap. Pemerintah Singapura, katanya, telah menyiapkan rencana untuk melindungi kesehatan warganya.
Kualitas udara di negeri jiran itu memang memburuk. Pada Jumat (9/10/2026) sore, kelima wilayah Singapura mencatat kualitas udara tidak sehat, dengan indeks PSI rata-rata 24 jam di wilayah tengah menyentuh 192, tertinggi sepanjang musim kabut asap tahun ini. Pada Sabtu pagi, angkanya sedikit turun menjadi 174 di wilayah tengah, tetapi masih dalam kategori tidak sehat.
Situasi ini menjadi perhatian karena Singapura tengah bersiap menggelar Formula 1 Singapore Grand Prix akhir pekan ini. Grace menyebut belum ada rencana mengubah jadwal acara luar ruangan, namun pihaknya menyiapkan rencana kontingensi berdasarkan level PSI dan PM2.5, termasuk penyediaan bantuan medis dan masker N95 di area sirkuit bila diperlukan.

