BERITA STAI ATTANWIR, JAKARTA – Gejolak di Timur Tengah membuat Indonesia kehilangan sekitar seperempat sumber impor bahan bakar minyak (BBM). Pemerintah bersama Pertamina kini berburu pasokan langsung ke negara-negara yang masih memiliki kelebihan stok, sebuah langkah yang menjaga ketersediaan BBM tetapi berisiko mengerek biaya impor.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan hal itu dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026. "Sejak terjadinya konflik di Timur Tengah, kita kehilangan 25% sumber impor," ujarnya, sebagaimana dikutip Bisnis.com pada Jumat (9/10/2026).
Lelang Sepi Peminat
Menurut Laode, mekanisme pengadaan BBM yang selama ini dilakukan Pertamina lewat lelang kini nyaris tak berjalan karena minimnya peserta. Sebagai gantinya, pemerintah melakukan pencarian langsung, atau hunting, ke negara-negara pemasok yang masih memiliki surplus.
Laode mengakui cara ini berpotensi membuat harga BBM yang diperoleh lebih mahal dibanding pengadaan normal. Namun, langkah itu dinilai perlu demi memastikan stok nasional tetap tersedia di tengah ketidakpastian global.
Ia menyebut dua prioritas pemerintah. Pertama, menahan harga BBM subsidi, terutama solar dan bensin, agar tidak naik, mengingat bahan bakar ini banyak dipakai masyarakat termasuk nelayan dan petani sehingga kenaikannya bisa memicu inflasi. Kedua, menjaga ketahanan stok BBM nasional di kisaran 18 hingga 20 hari.
Laode menambahkan, antrean BBM yang muncul di sejumlah daerah tidak serta-merta menandakan stok nasional bermasalah. Kendala distribusi, misalnya jalur sungai yang terganggu akibat El Nino, bisa menjadi penyebabnya.
Desakan Diversifikasi
Dewan Energi Nasional (DEN) meminta pemerintah bergerak cepat. Anggota DEN, Saleh Abdurrahman, menilai Indonesia perlu segera mencari sumber alternatif dari kawasan dengan risiko geopolitik yang lebih rendah atau lebih stabil. DEN juga mengusulkan agar pemerintah dan badan usaha, baik BUMN maupun swasta, menjajaki skema pengamanan stok melalui mekanisme vendor-held stock dan oil ticketing.
Praktisi migas Hadi Ismoyo menilai diversifikasi negara pemasok sebagai langkah efektif yang memberi fleksibilitas bagi Indonesia. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa jarak pemasok baru yang lebih jauh tak terhindarkan akan menaikkan ongkos pengiriman. Hadi juga mendorong pembangunan fasilitas penyimpanan minyak, idealnya lewat kerja sama Pertamina dan swasta, agar Indonesia bisa menimbun pasokan saat harga global sedang rendah.
Biaya Logistik dan Tata Kelola
Ketua Komite Investasi Aspermigas, Moshe Rizal, menyebut mencari pemasok pengganti dalam waktu singkat bukan perkara mudah karena negara lain juga sedang berebut minyak. Ia menyarankan penguatan pasokan dari Afrika, yang selama ini sudah menjadi salah satu sumber utama, sembari menjajaki Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Mesir, hingga negara-negara Eropa.
Moshe mengingatkan sejumlah hal teknis, mulai dari kecocokan spesifikasi minyak mentah dengan kilang domestik hingga premi asuransi pengiriman di sekitar Timur Tengah yang bisa naik dua sampai tiga kali lipat. Ia juga menekankan pentingnya transparansi, mengingat banyak kasus korupsi di sektor migas pada masa lalu berkaitan dengan impor.
Kondisi ini menunjukkan betapa rentannya ketahanan energi nasional terhadap guncangan pasokan global. Ke depan, pemerintah dituntut tidak hanya mengamankan pasokan jangka pendek, tetapi juga memperkuat cadangan energi dalam negeri.


